5 Perilaku Koruptif Mengintai Kita

Maret 20, 2020
Komisi Pemberantasan Korupsi


Oleh: Anatasia Wahyudi



Barisannews.com - Berdasarkan data Indonesia Corruption Watch (ICW), aparat penegak hukum sebagai ujung tombak dalam upaya pemberantasan korupsi telah menangani 454 kasus sepanjang 2018. Penindakan kasus korupsi yang dilakukan oleh penegak hukum dalam empat tahun (2015-2018) mengalami penurunan. Baik dalam jumlah kasus maupun aktor yang ditetapkan sebagai tersangka.

Penurunan penindakan kasus korupsi sepanjang tahun 2018 tersebut bukan indikator Indonesia sudah mulai bersih-bersih akan tindakan korupsi. Karena di tahun itu, Indonesia berada di peringkat 89 dari 180 yang disurvei oleh Transparency International dengan menunjukkan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia berada di level 38 dari skala 0-100 pada 2018. Ini merupakan indikasi bahwa sebenarnya masih terjadi banyak korupsi di Indonesia.

Masyarakat sering tidak menyadari terdapat kebiasaan sehari-hari yang dapat memupuk perilaku koruptif. Perlu ditekankan kepada kita semuanya “korupsi bukan hanya tentang uang. Korupsi tidak selalu merugikan uang negara. Tetapi korupsi itu nyata dan patut dihindari”. Hal inilah pada akhirnya akan menghindari kita dari kebiasaan-kebiasaan yang acapkali kita sepelekan selama ini.

Pendidikan pertama bagi anak-anak diterima dari dalam keluarga. Orangtua memiliki tanggung jawab dalam memberikan pengarahan dan nasehat kepada anak untuk terhindar dari perilaku koruptif. Semua orangtua tentu menyayangi anak-anaknya sepenuh hati. Namun, terkadang tanpa sadar, orangtua juga tidak sadar jika sebenarnya tindakannya akan memberikan pengaruh buruk di masa yang akan datang.

Contohnya berbohong. Hindari untuk berbohong di depan anak. Biasakan untuk berkata jujur kepada mereka. Misalkan seperti “Kamu adalah anak yang paling cantik di dunia,”. Ini adalah kebohongan. Dunia ini luas. Tidak semua memiliki pandangan yang sama tentang level kecantikan. Lalu apa yang harus dilakukan? Katakan saja “Bagi Ibu, kamu adalah anak yang cantik,” tanpa perlu embel-embel paling dan di dunia.

Kenapa orangtua tidak boleh berbohong? Saat kecil, anak lebih sering berkomunikasi dengan orangtua. Pembentukan karakter dimulai. Telinga dan mata anak merekam semua ucapan dan perbuatan orangtua mereka ke dalam memori otak.
Setelah besar, jika yang diingat kebohongan orangtuanya, ia akan tumbuh menjadi anak pembohong.

Pembentukan karakter orangtua yang utama adalah dari rumah. Setelah itu, lingkungan masyarakat. Jika anak bertanya, orangtua harus menjelaskan dengan seksama terutama pertanyaan yang dilihat dari lingkungan sekitar.


Kebiasaan bergaya agar dipandang
Boleh saja bergaya, tidak ada yang melarang. Asal ingat batasan dan kemampuan. Beli barang bermerk, traktir teman-teman, makan di tempat mewah, dan lain-lain. Hanya demi eksistensi. Karena terbiasa hidup glamour yang tidak sesuai denga isi kantong, pada akhirnya, korupsi. Ketika sudah terbiasa dengan gaya hidup kelas atas sehingga lupa batas, sikat sana-sini agar bisa naik kelas. Main proyek sana-sini. Minta jatah si ini- si itu.

Konon katanya, orang-orang yang lulusan perguruan tinggi adalah mereka yang memiliki intelektual lebih. Kenyataannya, sekitar 86 % pelaku korupsi Indonesia sejak 2004-2015 merupakan lulusan perguruan tinggi. Peringkat pertama master (S2), kedua sarjana, lalu doktor. Jadi, bukan berarti tingkat pendidikan menjadi jaminan untuk tidak melakukan tindakan korupsi.

1. Plagiasi
Tentu, kita sering mendengar kasus plagiasi yang terjadi di lingkungan kampus. Dengan adanya kemudahan teknologi , dapat sangat membantu dalam menyelesaikan tugas, jurnal, maupun tugas akhir. Jika untuk bahan referensi bukanlah masalah, penulis pun perlu banyak referensi dengan membaca. Tetapi jika tidak menuliskan sumber apalagi 100% mengakui hasil copy paste sebagai hasil sendiri. Ini tindakan tidak terpuji.

2. Titip absen
Kebiasaan yang terjadi di lingkungan kampus yaitu titip absen (tipsen). Untuk mengelabui dosen biasanya mahasiswa memilih kelas yang ramai sehingga dosen kemungkinan tidak akan mengenali mahasiswanya satu persatu. Biasanya mahasiswa akan bergantian. Minggu ini si A yang absenin B. minggu depan si B yang diabsenkan oleh si A. Seperti itulah perputaran roda tipsen di lingkungan kampus.

3. Jasa bikin tugas dan skripsi
Deadline semakin dekat, tugas belum tersentuh. Skripsi direvisi. Bayar orang untuk mengerjakan tugas atau skripsi. Tugas maupun skripsi adalah tanggungjawab mahasiswa. Memang ada dosen yang tidak pelit alias malas menilai, mau bagaimanapun tugas yang kamu berikan, pokoknya nilai auto A. Ada juga dosen yang tugas bagus, B, tugas jelek C, dan tidak mengerjakan tugas D. Tipe dosen ini disebut saklek alias pelit nilai. Tidak peduli perjuangan kamu, ya nilai segitu. Sehingga mahasiswa yang mudah putus asa kadang memilih untuk membayar orang.

Setelah itu mendapat pendidikan karakter dalam keluarga, bersosialisasi di masyarakat dan menempuh pendidikan, anak mulai dalam lingkungan pekerjaan. Ada dua contoh perilaku koruptif di tengah masyarakat yaitu uang pelicin dan koneksi.

4. Uang Pelicin
Bukan hanya pelembut pakaian saja yang perlu menggunakan pelicin. Mendapatkan pekerjaan dan naik jabatan pun ada pelicinnya. Setelah memberi uang pelicin yang tak sedikit bahkan sampai hutang sana-sini. Selang beberapa waktu kemudian, berupaya untuk mendapatkan kembali uang yang dikeluarkan.

Setelah jadi atasan dari hasil sogokan, ada yang mau melamar pekerjaan, diminta memberikan sejumlah uang. Begitu terus sampai terbentuklah lingkaran setan yang sulit putus.

Mulailah dengan usaha keras, ikhtiar, dan berdoa agar diberikan kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan. Jika kemampuan mumpuni, tidak sulit untuk naik jabatan tanpa perlu keluar biaya.

5. Kekuatan koneksi
Lulus kuliah, cari kerja. Cari kesana-kesini, belum dapat juga. Ya Namanya juga usaha, coba lagi. Sayangnya, Indonesia terlalu sibuk dengan gengsi. Padahal ada pepatah yang mengatakan ‘kerja sing penting halal’. Tapi ditawari jadi pramuniaga, menolak. Katanya, percuma sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya jaga toko. Lho?

Setelah diingat-ingat punya tante yang punya perusahaan. Mintalah kerjaan. Karena keponakan, ga mungkin dikasih jadi cleaning service walaupun pengalaman belum ada.
Akhirnya apa yang terjadi? Kerja ga bisa. Yang masukin kerja juga malu.

Jadi, bagi kalian yang benar-benar ingin mencari pekerjaan. Gunakanlah kompetensi kalian. Bukan menggunakan kekuatan koneksi hanya demi harga diri. Kerja sebagai cleaning service itu sah-sah saja. Bisa menjadi awal untuk mendapatkan pengalaman. Siapa tahu klien perusahaan dari tempat Anda bekerja melihat kemampuan Anda, lalu merekrut Anda setelah melihat resume. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Keajaiban selalu datang kepada orang-orang yang bersabar.

Ada 9 nilai anti korupsi yang harus ditanamkan sejak dini, yaitu: jujur, peduli, mandiri,disiplin, tanggungjawab, kerja keras,sederhana, berani, dan adil. Koruptor bukan hanya merugikan uang negara dan menyengsarakan masyarakat luas, tetapi juga membuat keluarga malu serta nama baik tercoreng. Sekali korupsi, tidak akan bisa berhenti hingga keluar jeruji besi pun masih ingin memperkaya diri. Itulah batasan anatara manusia yang bersyukur dan kufur.

Ayo, bersama kita perangi perilaku koruptif dimulai dari kebiasaan sehari-hari agar bangsa ini bisa lebih maju lagi! Karena korupsi bukan hanya tentang materi. (Red)

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔